Hari ini saya
mulai dengan datang kepagian di bandara Soekarno Hatta, dengan alibi takut
kejebak macet di tol halim, sopir saya tancap gas ngebut sengebut ngebutnya dari
tempat berangkat di salah satu rest area di daerah bekasi, alhasil jam 7 pagi saya
sudah ada di bandara, panorama Jakarta di pagi hari bikin saya nyaman juga,
kota yang sama sekali ngga bikin saya tertarik untuk tinggal ini ternyata keren
juga dipandangi di pagi hari dari atas jalan tol jurusan tanjung priok, sampai
di bandara sempet mati gaya juga akibat kelamaan nunggu, akhirnya setelah
berdiam diri dan ngabisin beberapa batang rokok saya mutusin buat tiduran aja
di mobil sambil nunggu sepupu saya datang dan tiba nya waktu check in.
Kira kira
1 jam kemudian saya bangun dan sarapan di sekitar parkiran, abis sarapan saya
menuju toilet, entah apa yang ada di kepala saya waktu itu karena saya malah
masuk ke toilet wanita, si penjaga toilet yg saya tebak orang ambon, timor
timur atau nusa tenggara dengan sopan mempersilakan saya pergi ke toilet pria.
Sampe beberapa menit kemudian saya masih ga habis pikir kenapa saya masuk
toilet cewe padahal saya termasuk insan yang sangat aware melototin gambar
gender di pintu toilet manapun jg.
Sekitar
jam 9.30 akhirnya saya jalan ke terminal keberangkatan, pesawat saya
flight jam 11.40 artinya jam 9.40 saya udah disarankan check – in, di terminal
sepupu saya (tari) udah nampak batang idungnya, dianter sama bokap nyokapnya,
setelah beramah tamah sebentar tepat jam 9.40 saya sama tari mulai antri check
in, Indonesia adalah sedikit dari Negara – Negara yang masih memisahkan
pembayaran airport tax dengan harga jual tiket, menurut hemat saya itu adalah
salah satu pemborosan waktu karena artinya saat check in ada waktu yang harus
disisihkan untuk membayar airport tax, kalo antrian sepi sih oke, tp kalo
bejibun macam akan Lebaran ya ga lucu jg kan, saya bayangin waktu yang
digunakan untuk pelayanan check – in 2 orang plus pembayaran airport tax sama
dengan pelayanan check in untuk 4 orang tanpa pembayaran airport tax, tp
yaitulah Indonesia, semoga makin baik di masa depan ya, selanjutnya saya masuk
di gate imigrasi dan waiting room, disini tak banyak yang bisa diceritain
selain ruang waiting room yang saya liat agak kekecilan, padahal sepanjang
jalan dari tempat check in ke waiting room saya liat masih banyak lahan kosong,
jalan kakinya aja jauh ke waiting room.

see u in a week Indonesia
Jam 11.35
semua penumpang udah dipersilakan masuk ke pesawat, pesawat lion air kelas
ekonomi ini ga jauh dari ekspektasi saya, sempit dan space terbatas buat kaki,
tp bagasi kabin nya gede jg, ga terlalu buruk lah untuk kelas ekonomi, tak beda
jauh dengan kelas ekonomi maskapai Merpati, tapi masih lebih “manusiawi” kelas
ekonomi air asia yang saya liat sedikit lebih luas dan rapi. Tepat jam 11.40
pesawat saya take off dengan lancar, penerbangan ini memakan waktu kira kira 1
jam 40 menit, setelah 30 menit perjalanan Nampak cuaca beranjak buruk, hujan
lebat, angin dan petir datang bergantian, crew pesawat beberapa kali
mengumumkan adanya cuaca buruk dan mengingatkan untuk mengencangkan sabuk
pengaman, dan akhirnya tepat seperti perkiraan saya, pesawat banyak mengalami turbulence
yang bikin saya sama sekali ga enjoy
menikmati penerbangan, maksud hati duduk santai sambil dengerin ipod (KALO BISA
SAMPE TIDUR), yang ada malah keder gara – gara seringnya turbulence, lagian
siapa juga yang bisa santai santai menghadapi turbulence di atas laut lepas, cuaca
buruk ini masih berlangsung sampai memasuki dataran semenanjung Malaya dan baru
berakhir saat memasuki Kuala Lumpur, kalo saya bilang inilah penerbangan
terburuk saya seumur umur naik pesawat tp Alhamdulillah sekitar jam 14.30 waktu
Kuala Lumpur akhirnya saya mendarat juga di Kuala Lumpur Internatiional
Airlines (KLIA)
Kesan
Pertama saya waktu mendat di KLIA adalah GEDEEE BANGEEETTTTTT INI BANDARAA
!!!! kebisaaan saya liat bandara bandara di indonesia kecil kecil kali
ya, ini bandara bener – bener lengang dan malah terkesan sepi bahkan saat
kedatangan maupun jadwal keberangkatan pesawat, mungkin karena saking gedenya
dan penduduk Malaysia yang ga banyak juga. sampe di bandara saya sama tari
kebingungan nyari imigrasi dan pengambilan bagasi, biasanya (di Indonesia)
bagasi dan imigrasi letaknya ga begitu jauh dari tempat turunnya pesawat)
kesalahan fatalnya adalah saya mampir dulu ke toilet, jadinya saya ga bisa
merhatiin “temen2” sepesawat saya jalan menuju konter pengambilan bagasi.
Setelah berkeliling dan ga mendapatkan pencerahan akhirnya kita mutusin buat
nanya ke customer service, si “mbak” customer service yang berdarah india dan
item itu (penting ya nyebutin itemnya ? :p) nunjukin saya untuk naik kereta
listrik menuju terminal kedatangan untuk cek imigrasi dan ambil bagasi, itulah
percakapan bahasa melayu saya yang pertama di Malaysia sekaligus menyadarkan saya
bahwa tempat imigrasi dan bagasi ada di gedung terpisah dengan tempat saya
berpijak sekarang.
Berdasarkan
petunjuk dari mbak CS India itu kemudian saya naik train ke terminal bagasi,
okeh ini terjemahan saya yang pertama : di Malaysia orang nyebut kereta itu
train ( sama kayak british) kereta itu dalam bahasa Malaysia adalah mobil, jd saya
naek electric train dan turun di gedung tempat imigrasi dan bagasi, keretanya
bagus banget, bersih, dan cepat. Setelah menyelesaikan bagasi dan imigrasi kita
menuju tempat penjemputan, penjemput kita adalah sepupu dari ayahnya sepupu saya
si Tari (Ribet ya ?) okelah singkat kata kita sebut saja Om Mastro, begitu
tiba di tempat penjemputan Om Mastro dengan mudah menemukan kita, Om
Mastro datang bersama Istrinya Bibi Lilik dan anaknya Hazirah, disitulah
terjadi ramah tamah dalam bahasa melayu yang sedikit bikin saya pusing
hahahaha..n finally... welcome to Malaysia yeaaaahhhh.
train menuju gerbang imigrasi & pengambilan bagasi
Voilla Malaysia hehe
Saya, tari, bi lilik & hazirah, om mastro yg motoin :p
Baiklah….
Sebelum saya cerita lebih lanjut perjalanan saya di Malaysia, saya mau flash
back dan cerita dulu latar belakang keberangkatan saya ke Malaysia dan orang –
orang yang akan saya kunjungi di Malaysia. Rencana liburan ke Malaysia udah saya
dan Tari rencanakan mulai dari bulan Juni tahun 2012, rencana awal kita akan
berangkat sekitar pertengahan bulan Juli, namun karena berbagai pertimbangan
dan kendala maka rencana itu kita undur sampai bulan Januari 2013, tiket kita
beli di Solo sekitar bulan September 2012 sampai kemudian dapat jadwal flight
tanggal 12 Januari 2013. Berbicara tentang orang – orang yang akan saya
kunjungi di Malaysia itu tidak lain adalah saudara jauh saya, silsilahnya
seperti ini : saudara saudari (tepatnya leluhur) seangkatan nenek saya beserta
beberapa rekan dan saudara sekampungnya merantau ke Malaysia untuk bekerja di
perkebunan kelapa sawit, mereka hidup di sebuah kawasan bernama Sungai Buaya
dimana hampir seluruh penduduknya merupakan imigran suku Jawa sehingga
memakai bahasa Jawa dalam kehidupan sehari – hari sampai dengan sekarang,
pada akhirnya mereka menetap hidup dan keturunannya menjadi Warga Negara
Malaysia, Anak – anak mereka kini tersebar menetap di sekitar wilayah Rawang,
suatu distrik di tepi kota Kuala Lumpur, berjarak kurang lebih 1 Jam dari Kuala
Lumpur (KL). Mereka kini resmi menjadi Warga negara Malaysia dengan berbagai
profesi mulai dari Supervisor di pabrik spare part mobil, pegawai kerajaan (PNS
nya Malaysia), Perawat dan juga ada yang bekerja di kantor perkebunan kelapa
sawit. Om Mastro adalah tokoh sentral yang membuat jadwal kegiatan kita, mengatur
dimana kita menginap dan mengunjungi tempat tempat wisata di Malaysia, dia
adalah seorang Pegawai Kerajaan Malaysia di Departement Of Agriculture (sejenis
PNS di Departemen Pertanian).
Okey
kembali ke perjalanan hari pertama di Malaysia, setelah bertemu Om Mastro di
Bandara dan menunaikan shalat Dzuhur kita memutuskan untuk makan siang, dan
entah apa pertimbangannya Om Mastro mengajak kita makan siang di salah satu
restoran padang di bandara KLIA, what?? Restoran padang??? Iya restoran padang,
sempet bĂȘte jg waktu tau bakal makan di restoran padang yang di Indonesia hampir
pasti ada di tiap tikungan di kota manapun (sok tau hehe di maumere, sibolga
atau sabang ada ga ya?) tp okelah saya pikir bisa sambil membandingkan masakan
padang di Indonesia dan di Malaysia, akhirnya dengan langkah kelaparan karena
di pesawat ga pesen makanan saya ambil satu persatu makanan di restoran
tersebut, menu nya kurang lebih sama dengan di Indonesia namun lebih banyak
variasi sayuran dan yang bikin beda itu karena tak ada sambal caberawit nya,
ada kejadian menarik ketika saya dan tari memesan minuman, kami bermaksud
memesan teh tawar panas jadi ketika pelayan menanyakan pesanan minuman kami
dengan serempak kami mengatakan “2 hot tea”, Om Mastro yang sudah mengerti benar
dengan perbedaan makna hot tea kemudian menjelaskan bahwa di Malaysia saat kita
memesan tea/teh maka otomatis yang akan datang adalah teh dengan susu dan gula,
apabila ingin memesan teh tanpa susu kita harus menyebutnya “tea o” dan itupun masih teh dengan
gula alias teh manis, jadi kalimat paling tepat untuk teh tawar panas adalah “tea o kurang manis” lho.??? Saya sempat
keberatan dengan penggunaan kata kurang manis hahaha tp apalah mau dikata, ini
malaysia hehehe saudara serumpun yang punya jutaan perbedaan makna kosakata
dengan kita, yang patut saya syukuri adalah Om Mastro dengan cepat melihat
gejala kesalahan pesanan kami, bayangin kalau ga, abis makan kari ayam minumnya
teh susu hmmmmm enek pooll mameeennn.

restoran padang di foodcourt KLIA, lagi@ om mastro yg motoin hehe
Sambil
makan siang Om Mastro mengungkapkan bahwa hari ini dia akan mengajak kita
berpusing – pusing (berputar – putar *bahasa Malaysia) dengan kereta listrik,
Commuter serta monorail di KL dan sekitarnya, setelah selesai makan perjalanan
dimulai dari stesen train (Stasiun kereta) KLIA yang berada d bawah gedung
Bandara KLIA, suasananya sepi, Cuma sekitar 5 orang yang menunggu train, buat saya
cukup amazing ada stasiun kereta di bawah bangunan bandara, ruang tunggu yang
disediakan ber AC, dan terdapat monitor waktu yang menunjukan berapa menit lagi
kereta akan tiba, sangat nyaman dan canggih. Tentu saja kesempatan menunggu
kereta tak disia siakan untuk berfoto – foto di stasiun kereta listrik canggih
(norak hhehehhehehe). Begitu memasuki kereta dalam hati saya makin berdecak
kagum, keretanya bersih, sejuk dan modern bentuknya, karoseri yang digunakan
juga mewah, berani taruhan 100 ribu eh ga deh 20 ribu aja kalo lo semua ga akan
nemuin satupun sampah sekecil apapun disana, padahal disana tak ada polisi atau
crew kereta, benar- benar amazing bwt saya, pemerintah Malaysia bener-bener
memperhatikan transportasi publik dengan baik dan serius.

ini penampakan di dalam keretanya
ini ruang tunggunya
bagian luar ruang tunggu, papan elektrik di atas kepala saya nunjukin
sisa waktu sampai kereta selanjutnya tiba, sangat on time!!!
Kembali
ke perjalanan, kita pertama tama berhenti di Stesen Putrajaya & Cyberjaya,
disana kita melaksanakan shalat Ashar pukul 6.15 Sore, ya di Malaysia matahari
terbenam pukul 7 malam lebih sehingga pukul 6 sore masih bisa melaksanakan
shalat ashar dan masih terang. Tak berapa lama kami melanjutkan perjalanan
menuju stesen Dang Wangi, karekteristik stasiun kereta di Malaysia bangunannya
tak terlalu besar, mungkin karena penduduknya tidak terlalu padat dan cenderung
sedikit, namun semua stasiun kereta dilengkapi fasilitas canggih mulai dari
escalator, lift, ruang tunggu ber AC, mushalla dan toilet bersih dan ber AC
serta monitor schedule yang tentunya tepat waktu, dari stasiun Dang Wangi kita
melanjutkan perjalanan menuju Stesen Train KL Sentral di Kuala Lumpur
menggunakan Monorail, pertama kali naik monorail serem juga liat bantalan rel
nya yang terlihat cuma tembok yang menopang bagian tengah kereta, namun
keretanya berjalan stabil dan cepat, seandainya saja proyek monorail di Jakarta
tak gagal mungkin transportasi semacam ini bisa kita nikmati di Jakarta, di
monorail ini penumpangnya mulai padat, ada orang orang berwajah melayu, cina
dan india tumplek di satu gerbong kereta, ya malaysia memang multi etnis,
indonesia juga tapi di indonesia tak sebanyak ini kita temukan wajah wajah
india berkeliaran di jalanan, udah gitu ternyata wajah india pun bermacam macam
ada yang memang india, pakistan, bangladesh etc ntar deh saya ceritain di
postingan berikutnya, soalnya ada pengalaman ditolongin orang bangladesh juga
waktu di malaysia. Kami tiba di Stesen
Sentral KL, stasiun ini merupakan terminal kereta dan bus terbesar di Malaysia
yang memberangkatkan transportasi ke seluruh pelosok Malaysia bahkan sampai ke
Thailand, disini lumayan ramai dan sibuk, sepanjang perjalanan di kereta
monorail tadi kami berbincang bincang dengan Om Mastro, dia sangat fasih
berbahasa Jawa namun tak dapat berbahasa Indonesia karena sejak lahir tinggal
di Malaysia, kami berkomunikasi dengan bahasa masing – masing dengan bahasa
inggris sebagai jalan tengah apabila sama sama tidak mengerti maksud
pembicaraan, dari percakapan awal dengan Om Mastro jadilah saya mengenal
beberapa kosakata Malaysia yang jadi bekal saya mengarungi Malaysia dalam
9 hari kedepan.

transit di putrajaya, tp ga masuk ke kotanya
tansit di Dang Wangi
keluar stesen mesti masukin koin tiket,
ga bakal ada penumpang gelap kaya di Tanah Abang
Produk Indonesia yang jadi No.1 di Malaysia hehhe bintang iklan
Om Mastro menjelaskan bahwa jadwal kami sangat padat
karena selain berlibur ke tempat wisata, ada 5 keluarga yang mengundang kami
untuk menginap. Dari stesen Train KL Sentral kami menuju Rawang menggunakan
kereta listrik biasa, Rawang adalah tempat dimana saudara – saudara kami
tinggal, Rawang merupakan suatu kota (Bandar *bahasa Malaysia) di pinggiran
wilayah Kuala Lumpur, masuk ke dalam pemerintahan Distrik Gombak dibawah
pemerintahan Negeri/Provinsi Selangor. Tiba di rawang sekitar pukul 9
Malam. Om Mastro kemudian mengantar Saya dan tari ke Rumah Om Fauzi dan Bibi
Ros menggunakan Mobilnya yang sejak pagi disimpan di stasiun. Lokasinya ada di
wilayah Taman Tun Perak Rawang. Bibi Ros adalah adik sepupu Om Mastro,
profesinya adalah seorang perawat di Rumah sakit setempat sedangkan suaminya Om
Fauzi bekerja di sebuah media cetak di kota Rawang, tiba disana kami disambut
hangat dan melanjutkan dengan makan malam, menu makanan rumahan tak jauh
berbeda, ada tempe goreng, telur dadar, tumis ayam kecap dan tumis tauge tahu,
indonesia banget lah, suasana sangat akrab meski saya sama Tari seringkali tak
paham bahasa mereka. Akhirnya ya ikut ketawa ketawa aja dikit walau bingung
sama apa yang mereka omongin.
Sekitar
pukul 11.30 malam om mastro, bi lilik dan hazirah pulang, yang terbayang di
benak saya adalah sesegera mungkin bersih bersih badan dan tidur, perjalanan
banjar-jakarta, dilanjutkan flight dengan cuaca buruk trus diterusin naek turun
kereta di KL bikin badan jadi lumayan cape jg, namun ternyata… harapan tinggal
harapan Uncle Fauzi just give us a surprise. to be continued...