Senin, 04 Februari 2013

Malaysia day 1 part 1, Jakarta-Kuala Lumpur

Hari ini saya mulai dengan datang kepagian di bandara Soekarno Hatta, dengan alibi takut kejebak macet di tol halim, sopir saya tancap gas ngebut sengebut ngebutnya dari tempat berangkat di salah satu rest area di daerah bekasi, alhasil jam 7 pagi saya sudah ada di bandara, panorama Jakarta di pagi hari bikin saya nyaman juga, kota yang sama sekali ngga bikin saya tertarik untuk tinggal ini ternyata keren juga dipandangi di pagi hari dari atas jalan tol jurusan tanjung priok, sampai di bandara sempet mati gaya juga akibat kelamaan nunggu, akhirnya setelah berdiam diri dan ngabisin beberapa batang rokok saya mutusin buat tiduran aja di mobil sambil nunggu sepupu saya datang dan tiba nya waktu check in.
Kira kira 1 jam kemudian saya bangun dan sarapan di sekitar parkiran, abis sarapan saya menuju toilet, entah apa yang ada di kepala saya waktu itu karena saya malah masuk ke toilet wanita, si penjaga toilet yg saya tebak orang ambon, timor timur atau nusa tenggara dengan sopan mempersilakan saya pergi ke toilet pria. Sampe beberapa menit kemudian saya masih ga habis pikir kenapa saya masuk toilet cewe padahal saya termasuk insan yang sangat aware melototin gambar gender di pintu toilet manapun jg.
Sekitar  jam 9.30 akhirnya saya jalan ke terminal keberangkatan, pesawat saya flight jam 11.40 artinya jam 9.40 saya udah disarankan check – in, di terminal sepupu saya (tari) udah nampak batang idungnya, dianter sama bokap nyokapnya, setelah beramah tamah sebentar tepat jam 9.40 saya sama tari mulai antri check in, Indonesia adalah sedikit dari Negara – Negara yang masih memisahkan pembayaran airport tax dengan harga jual tiket, menurut hemat saya itu adalah salah satu pemborosan waktu karena artinya saat check in ada waktu yang harus disisihkan untuk membayar  airport tax, kalo antrian sepi sih oke, tp kalo bejibun macam akan Lebaran ya ga lucu jg kan, saya bayangin waktu yang digunakan untuk pelayanan check – in 2 orang plus pembayaran airport tax sama dengan pelayanan check in untuk 4 orang tanpa pembayaran airport tax, tp yaitulah Indonesia, semoga makin baik di masa depan ya, selanjutnya saya masuk di gate imigrasi dan waiting room, disini tak banyak yang bisa diceritain selain ruang waiting room yang saya liat agak kekecilan, padahal sepanjang jalan dari tempat check in ke waiting room saya liat masih banyak lahan kosong, jalan kakinya aja jauh ke waiting room.
see u in a week Indonesia
Jam 11.35 semua penumpang udah dipersilakan masuk ke pesawat, pesawat lion air kelas ekonomi ini ga jauh dari ekspektasi saya, sempit dan space terbatas buat kaki, tp bagasi kabin nya gede jg, ga terlalu buruk lah untuk kelas ekonomi, tak beda jauh dengan kelas ekonomi maskapai Merpati, tapi masih lebih “manusiawi” kelas ekonomi air asia yang saya liat sedikit lebih luas dan rapi. Tepat jam 11.40 pesawat saya take off dengan lancar, penerbangan ini memakan waktu kira kira 1 jam 40 menit, setelah 30 menit perjalanan Nampak cuaca beranjak buruk, hujan lebat, angin dan petir datang bergantian, crew pesawat beberapa kali mengumumkan adanya cuaca buruk dan mengingatkan untuk mengencangkan sabuk pengaman, dan akhirnya tepat seperti perkiraan saya, pesawat banyak mengalami turbulence yang bikin saya sama sekali ga enjoy menikmati penerbangan, maksud hati duduk santai sambil dengerin ipod (KALO BISA SAMPE TIDUR), yang ada malah keder gara – gara seringnya turbulence, lagian siapa juga yang bisa santai santai menghadapi turbulence di atas laut lepas, cuaca buruk ini masih berlangsung sampai memasuki dataran semenanjung Malaya dan baru berakhir saat memasuki Kuala Lumpur, kalo saya bilang inilah penerbangan terburuk saya seumur umur naik pesawat tp Alhamdulillah sekitar jam 14.30 waktu Kuala Lumpur akhirnya saya mendarat juga di Kuala Lumpur Internatiional Airlines (KLIA)

Kesan Pertama saya waktu mendat di KLIA adalah GEDEEE BANGEEETTTTTT INI BANDARAA !!!!  kebisaaan saya liat bandara bandara di indonesia kecil kecil kali ya, ini bandara bener – bener lengang dan malah terkesan sepi bahkan saat kedatangan maupun jadwal keberangkatan pesawat, mungkin karena saking gedenya dan penduduk Malaysia yang ga banyak juga. sampe di bandara saya sama tari kebingungan nyari imigrasi dan pengambilan bagasi, biasanya (di Indonesia) bagasi dan imigrasi letaknya ga begitu jauh dari tempat turunnya pesawat) kesalahan fatalnya adalah saya mampir dulu ke toilet, jadinya saya ga bisa merhatiin “temen2” sepesawat saya jalan menuju konter pengambilan bagasi. Setelah berkeliling dan ga mendapatkan pencerahan akhirnya kita mutusin buat nanya ke customer service, si “mbak” customer service yang berdarah india dan item itu  (penting ya nyebutin itemnya ? :p) nunjukin saya untuk naik kereta listrik menuju terminal kedatangan untuk cek imigrasi dan ambil bagasi, itulah percakapan bahasa melayu saya yang pertama di Malaysia sekaligus menyadarkan saya bahwa tempat imigrasi dan bagasi ada di gedung terpisah dengan tempat saya berpijak sekarang.
Berdasarkan petunjuk dari mbak CS India itu kemudian saya naik train ke terminal bagasi, okeh ini terjemahan saya yang pertama : di Malaysia orang nyebut kereta itu train ( sama kayak british) kereta itu dalam bahasa Malaysia adalah mobil, jd saya naek electric train dan turun di gedung tempat imigrasi dan bagasi, keretanya bagus banget, bersih, dan cepat. Setelah menyelesaikan bagasi dan imigrasi kita menuju tempat penjemputan, penjemput kita adalah sepupu dari ayahnya sepupu saya si Tari (Ribet ya ?) okelah singkat kata kita sebut saja Om Mastro, begitu  tiba di tempat penjemputan Om Mastro dengan mudah menemukan kita, Om Mastro datang bersama Istrinya Bibi Lilik dan anaknya Hazirah, disitulah terjadi ramah tamah dalam bahasa melayu yang sedikit bikin saya pusing hahahaha..n finally... welcome to Malaysia yeaaaahhhh.
train menuju gerbang imigrasi & pengambilan bagasi

Voilla Malaysia hehe

Saya, tari, bi lilik & hazirah, om mastro yg motoin :p

Baiklah…. Sebelum saya cerita lebih lanjut perjalanan saya di Malaysia, saya mau flash back dan cerita dulu latar belakang keberangkatan saya ke Malaysia dan orang – orang yang akan saya kunjungi di Malaysia. Rencana liburan ke Malaysia udah saya dan Tari rencanakan mulai dari bulan Juni tahun 2012, rencana awal kita akan berangkat sekitar pertengahan bulan Juli, namun karena berbagai pertimbangan dan kendala maka rencana itu kita undur sampai bulan Januari 2013, tiket kita beli di Solo sekitar bulan September 2012 sampai kemudian dapat jadwal flight tanggal 12 Januari 2013. Berbicara tentang orang – orang yang akan saya kunjungi di Malaysia itu tidak lain adalah saudara jauh saya, silsilahnya seperti ini : saudara saudari (tepatnya leluhur) seangkatan nenek saya beserta beberapa rekan dan saudara sekampungnya merantau ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit, mereka hidup di sebuah kawasan bernama Sungai Buaya dimana hampir seluruh penduduknya  merupakan imigran suku Jawa sehingga memakai bahasa Jawa dalam kehidupan sehari –  hari sampai dengan sekarang, pada akhirnya mereka menetap hidup dan keturunannya menjadi Warga Negara Malaysia, Anak – anak mereka kini tersebar menetap di sekitar wilayah Rawang, suatu distrik di tepi kota Kuala Lumpur, berjarak kurang lebih 1 Jam dari Kuala Lumpur (KL). Mereka kini resmi menjadi Warga negara Malaysia dengan berbagai profesi mulai dari Supervisor di pabrik spare part mobil, pegawai kerajaan (PNS nya Malaysia), Perawat dan juga ada yang bekerja di kantor perkebunan kelapa sawit. Om Mastro adalah tokoh sentral yang membuat jadwal kegiatan kita, mengatur dimana kita menginap dan mengunjungi tempat tempat wisata di Malaysia, dia adalah seorang Pegawai Kerajaan Malaysia di Departement Of Agriculture (sejenis PNS di Departemen Pertanian).
Okey kembali ke perjalanan hari pertama di Malaysia, setelah bertemu Om Mastro di Bandara dan menunaikan shalat Dzuhur kita memutuskan untuk makan siang, dan entah apa pertimbangannya Om Mastro mengajak kita makan siang di salah satu restoran padang di bandara KLIA, what?? Restoran padang??? Iya restoran padang, sempet bĂȘte jg waktu tau bakal makan di restoran padang yang di Indonesia hampir pasti ada di tiap tikungan di kota manapun (sok tau hehe di maumere, sibolga atau sabang ada ga ya?) tp okelah saya pikir bisa sambil membandingkan masakan padang di Indonesia dan di Malaysia, akhirnya dengan langkah kelaparan karena di pesawat ga pesen makanan saya ambil satu persatu makanan di restoran tersebut, menu nya kurang lebih sama dengan di Indonesia namun lebih banyak variasi sayuran dan yang bikin beda itu karena tak ada sambal caberawit nya, ada kejadian menarik ketika saya dan tari memesan minuman, kami bermaksud memesan teh tawar panas jadi ketika pelayan menanyakan pesanan minuman kami dengan serempak kami mengatakan “2 hot tea”, Om Mastro yang sudah mengerti benar dengan perbedaan makna hot tea kemudian menjelaskan bahwa di Malaysia saat kita memesan tea/teh maka otomatis yang akan datang adalah teh dengan susu dan gula, apabila ingin memesan teh tanpa susu kita harus menyebutnya “tea o” dan itupun masih teh dengan gula alias teh manis, jadi kalimat paling tepat untuk teh tawar panas adalah “tea o kurang manis” lho.??? Saya sempat keberatan dengan penggunaan kata kurang manis hahaha tp apalah mau dikata, ini malaysia hehehe saudara serumpun yang punya jutaan perbedaan makna kosakata dengan kita, yang patut saya syukuri adalah Om Mastro dengan cepat melihat gejala kesalahan pesanan kami, bayangin kalau ga, abis makan kari ayam minumnya teh susu hmmmmm enek pooll mameeennn.
                                     
restoran padang di foodcourt KLIA, lagi@ om mastro yg motoin hehe

Sambil makan siang Om Mastro mengungkapkan bahwa hari ini dia akan mengajak kita berpusing – pusing (berputar – putar *bahasa Malaysia) dengan kereta listrik, Commuter serta monorail di KL dan sekitarnya, setelah selesai makan perjalanan dimulai dari stesen train (Stasiun kereta) KLIA yang berada d bawah gedung Bandara KLIA, suasananya sepi, Cuma sekitar 5 orang yang menunggu train, buat saya cukup amazing ada stasiun kereta di bawah bangunan bandara, ruang tunggu yang disediakan ber AC, dan terdapat monitor waktu yang menunjukan berapa menit lagi kereta akan tiba, sangat nyaman dan canggih. Tentu saja kesempatan menunggu kereta tak disia siakan untuk berfoto – foto di stasiun kereta listrik canggih (norak hhehehhehehe). Begitu memasuki kereta dalam hati saya makin berdecak kagum, keretanya bersih, sejuk dan modern bentuknya, karoseri yang digunakan juga mewah, berani taruhan 100 ribu eh ga deh 20 ribu aja kalo lo semua ga akan nemuin satupun sampah sekecil apapun disana, padahal disana tak ada polisi atau crew kereta, benar- benar amazing bwt saya, pemerintah Malaysia bener-bener memperhatikan transportasi publik dengan baik dan serius.
ini penampakan di dalam keretanya

ini ruang tunggunya

bagian luar ruang tunggu, papan elektrik di atas kepala saya nunjukin
 sisa waktu sampai kereta selanjutnya tiba, sangat on time!!!

Kembali ke perjalanan, kita pertama tama berhenti di Stesen Putrajaya & Cyberjaya, disana kita melaksanakan shalat Ashar pukul 6.15 Sore, ya di Malaysia matahari terbenam pukul 7 malam lebih sehingga pukul 6 sore masih bisa melaksanakan shalat ashar dan masih terang. Tak berapa lama kami melanjutkan perjalanan menuju stesen Dang Wangi, karekteristik stasiun kereta di Malaysia bangunannya tak terlalu besar, mungkin karena penduduknya tidak terlalu padat dan cenderung sedikit, namun semua stasiun kereta dilengkapi fasilitas canggih mulai dari escalator, lift, ruang tunggu ber AC, mushalla dan toilet bersih dan ber AC serta monitor schedule yang tentunya tepat waktu, dari stasiun Dang Wangi kita melanjutkan perjalanan menuju Stesen Train KL Sentral di Kuala Lumpur menggunakan Monorail, pertama kali naik monorail serem juga liat bantalan rel nya yang terlihat cuma tembok yang menopang bagian tengah kereta, namun keretanya berjalan stabil dan cepat, seandainya saja proyek monorail di Jakarta tak gagal mungkin transportasi semacam ini bisa kita nikmati di Jakarta, di monorail ini penumpangnya mulai padat, ada orang orang berwajah melayu, cina dan india tumplek di satu gerbong kereta, ya malaysia memang multi etnis, indonesia juga tapi di indonesia tak sebanyak ini kita temukan wajah wajah india berkeliaran di jalanan, udah gitu ternyata wajah india pun bermacam macam ada yang memang india, pakistan, bangladesh etc ntar deh saya ceritain di postingan berikutnya, soalnya ada pengalaman ditolongin orang bangladesh juga waktu di malaysia.  Kami tiba di Stesen Sentral KL, stasiun ini merupakan terminal kereta dan bus terbesar di Malaysia yang memberangkatkan transportasi ke seluruh pelosok Malaysia bahkan sampai ke Thailand, disini lumayan ramai dan sibuk, sepanjang perjalanan di kereta monorail tadi kami berbincang bincang dengan Om Mastro, dia sangat fasih berbahasa Jawa namun tak dapat berbahasa Indonesia karena sejak lahir tinggal di Malaysia, kami berkomunikasi dengan bahasa masing – masing dengan bahasa inggris sebagai jalan tengah apabila sama sama tidak mengerti maksud pembicaraan, dari percakapan awal dengan Om Mastro jadilah saya mengenal beberapa kosakata Malaysia yang jadi bekal saya mengarungi Malaysia dalam 9  hari kedepan. 
 transit di putrajaya, tp ga masuk ke kotanya

 tansit di Dang Wangi

 keluar stesen mesti masukin koin tiket, 
ga bakal ada penumpang gelap kaya di Tanah Abang


Produk Indonesia yang jadi No.1 di Malaysia hehhe bintang iklan
Om Mastro menjelaskan bahwa jadwal kami sangat padat karena selain berlibur ke tempat wisata, ada 5 keluarga yang mengundang kami untuk menginap. Dari stesen Train KL Sentral kami menuju Rawang menggunakan kereta listrik biasa, Rawang adalah tempat dimana saudara – saudara kami tinggal, Rawang merupakan suatu kota (Bandar *bahasa Malaysia) di pinggiran wilayah Kuala Lumpur, masuk ke dalam pemerintahan Distrik Gombak dibawah pemerintahan  Negeri/Provinsi Selangor. Tiba di rawang sekitar pukul 9 Malam. Om Mastro kemudian mengantar Saya dan tari ke Rumah Om Fauzi dan Bibi Ros menggunakan Mobilnya yang sejak pagi disimpan di stasiun. Lokasinya ada di wilayah Taman Tun Perak Rawang. Bibi Ros adalah adik sepupu Om Mastro, profesinya adalah seorang perawat di Rumah sakit setempat sedangkan suaminya Om Fauzi bekerja di sebuah media cetak di kota Rawang, tiba disana kami disambut hangat dan melanjutkan dengan makan malam, menu makanan rumahan tak jauh berbeda, ada tempe goreng, telur dadar, tumis ayam kecap dan tumis tauge tahu, indonesia banget lah, suasana sangat akrab meski saya sama Tari seringkali tak paham bahasa mereka. Akhirnya ya ikut ketawa ketawa aja dikit walau bingung sama apa yang mereka omongin.
Sekitar pukul 11.30 malam om mastro, bi lilik dan hazirah pulang, yang terbayang di benak saya adalah sesegera mungkin bersih bersih badan dan tidur, perjalanan banjar-jakarta, dilanjutkan flight dengan cuaca buruk trus diterusin naek turun kereta di KL bikin badan jadi lumayan cape jg, namun ternyata… harapan tinggal harapan Uncle Fauzi just give us a surprise.  to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar